
Renungan,”Dubalang Khalifah XV.”
Setelah kematian,
Allah mencabut nyawa seorang hamba, yang bertepatan di penghujung Ramadhan dan perpisahan dengan sholat taraweh.
setelah itu Allah perlihatkan amalan hamba yang sudah mati itu, dan hamba yang sudah mati itu menyesali 3 hal.
Pertama, kenapa tidak lebih jauh.
Kedua, kenapa tidak yang baru.
Ketiga, kenapa tidak satu.
Arti dan khiasan dari tiga kata ini adalah.
Pertama : ketika masih hidup hamba yang sudah mati itu rajin berjalan menuju masjid dekat rumahnya untuk sholat, karena perjalanan yang dekat, allah memberikan pahala sesuai dengan jarak yang ditempunya, hambapun menyesal, “kenapa saya tidak berjalan lebih jauh, karena pahala perjalanan menuju rumah ibadah yang lebih jauh itu, lebih tinggi nilai pahalanya”.
Kedua : ketika akan mati hamba allah itu memberikan baju bekas kepada orang yang tidak mampu dipenghujung ramadhan, dan Allah juga memberikan pahala setimpal dengan pemberian hamba tersebut, kenapa saya tidak memberikan yang baru, sebab pemberian yang baru, saya juga akan mendsapatkan pahala yang besar dari Allah.
dan Ketiga : hamba yang sudah mati semasa hidupnya pernah memberikan sepotong roti kepada orang yang sedang kelaparan, dan Allah juga memberikan pahala senilai sepotong roti. “kenapa saya tidak memberikan satu roti saja mungkin saya akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari Allah, sesalnya.
Dan mari kita ambil hikmah dari penghujung ramadhan dan perpisahan dengan sholat taraweh. Karena pahala di penghujung kita tidak mencukupi maka lengkapilah ibadah kita dengan mengunjungi terlebih dahulu bagi kita yang masih hidup orang tuanya, bersegeralah minta maaf dan hampunan, cium dan rangkul tubuh kurus dan telapak tangan yang sudah keribut yang lusuh karena merawat kita dari ayunan sampai besar, lakukanlah sebelum berkunjung ketempat kaum kerabat yang lainnya.
Dari ridhonya orang tua maka ridho pulalah Allah dan semoga Allah menambah dan memenuhi ibadah puasa kita yang kurang selama bulan suci ramadhan.(KK).
“Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir dan Bhatin. 1446.H-2025.M.Dari keluarga besar Khairul Koto”.